Ketika Mahasiswa memandang Jurnalisme Televisi
Jurnalisme
berasal dari kata djurnal berarti catatan harian. Tetapi memakai akhiran –isme,
menjadi memiliki arti suatu paham.
Jadi bisa dikatakan jurnalisme adalah paham tentang sebuah pencatatan / laporan
harian. Sementara pengertian jurnalistik
adalah kegiatan untuk menyiapkan,mengedit,dan menulis, untuk surat kabar,
majalah atau berkala lainnya (Assegaff, 1983:9). Pengertian lebih luasnya bahwa
Jurnalisme adalah paham tentang keilmuan kejurnalistikan. Sementara,
jurnalistik sudah termasuk kedalam prosesnya. Sedangkan hasilnya, disebut
produk jurnalistik, dan orang yang melakukan kegiatan jurnalistik disebut
sebagai jurnalis atau wartawan atau reporter.
Sementara
televisi terbagi menjadi dua suku kata yakni tele dan vision. Tele
memiliki pengertian jauh, sementara vision memiliki pengertian,
penglihatan,khayalan,impian, atau kata sifatnya berarti melihat dalam mimpi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Televisi adalah penyiaran
pertunjukan dan sebagainya dengan radio dan dengan alat penerima, pertunjukan
tadi diwujudkan sebagai gambar hidup. Sedangkan menurut Roger Maxwell dalam
bukunya “The Living Screen” antara lain mengatakan bahwa Televisi
adalah sebagai “a branch of broadcasting,
and it defends like sound radio, on the the transmission of signal in the form
of electro-magnetic waves that travel at the speed of light” (sebagai suatu
cabang dari penyiaran radio, dan sebagaimana siaran radio, ia tergantung pada
penyampaian tanda-tanda dalam bentuk gelombang elektromagnetis secepat sinar).
(Dikutip dari Kertapati, Ton 1986: 59).
Dari dua
pengertian diatas, saya mencoba menyimpulkan bahwa televisi itu hampir sama
dengan radio. Mereka sama-sama menggunakan bentuk gelombang elektromagnetis
sebagai media pancarnya, dan menggunakan transmisi sebagai alat penerima sinyal
gelombang elektromagnetis itu. Hanya saja, radio memiliki kekurangan pada
gambar dan kuat pada suara. Sementara televisi, memiliki kekuatan baik itu
suara maupun gambar.
Jadi, bisa saya
artikan bahwa jurnalisme televisi adalah paham tentang keilmuan kejurnalistikan
(menyiapkan,mengumpulkan,mengedit,dan menulis), untuk disiarkan dan ditunjukan
melalui alat penerima (transmisi), dan diwujudkan dengan sebuah gambar hidup
dan suara sedangkan kata-kata adalah penguat visual dan audionya.
Jurnalisme TV, Radio, dan Cetak
Terlepas dari setuju
dan tidaknya pengertian diatas, mari saya ajak untuk menguak sisi kelebihan si
‘kotak ajaib” ini. Dibandingkan media cetak maupun radio. Pertama, televisi
memiliki kekuatan dari sisi gambar (visual) dan suara (voice). Kedua, televisi
itu cepat dan langsung artinya siaran yang mereka sajikan berlangsung second-by-second. Ketiga, Tanpa Batas,
seperti radio siaran televisi dapat menembus batasan-batasan yang ada. Keempat,
identik dengan entertainment, siaran
televisi sekarang (di Indonesia) identik dengan hiburan dan sedikit sekali
mengenai informasi atau pendidikan. Kelima, Fleksibel, semakin cepatnya
teknologi maka semakin canggih pula Televisi. Bahkan kini televisi bisa dilihat
lewat handphone anda. Keenam, kedekatan, sebuah peristiwa yang berada di Timur
Tengah bisa kita lihat dan seolah berada di depan mata dengan televisi.
Ketujuh, Cepat berkembang, kini televisi sudah mengeluarkan televisi terbaru 3D
dan bisa melakukan apapun lewat televisi anda.
Sementara
apabila Televisi dibandingkan dengan radio, maka radio memiliki keunggulan pada
Theater of mind, yakni nalar atau
imajinasi seseorang lebih peka, dan juga radio identik dengan musik. Radio sama
dengan televisi memiliki penggemarnya tersendiri. Radio merupakan bisa
digunakan dimanapun maupun kapanpun hanya saja radio dan televisi berpacu
dengan second-by second.
Begitu pula
media, cetak mereka lebih unggul pada mampu menambah jam dengan cara
menambahkan rubrik atau kolom sedangkan televisi maupun radio harus berpacu
dengan waktu. Koran juga memiliki penggemarnya masing-masing langsung diserap
oleh kognitif (akal). Hanya saja, koran lebih menekankan pada mata sebagai
objeknya. Sedangkan radio pada telinga, sementara televisi pada mata dan
telinga.
Jenis-jenis Berita Jurnalisme Televisi
Jenis berita
banyak macamnya, jika di cetak kita mengenal hard news, spot news, dan
investigative news. Maka di radio kita mengenal dengan Buletin, insert news,
wawancara udara, dan talk show.
Di Jurnalisme
Televisi ada yang disebut warta berita, siaran pandangan mata, wawancara udara,
komentar, berita terkini, Berita Berkala. (Baksin, Akurifai 2009)
Pertama warta
berita, biasanya laporan tentang suatu peristiwa yang tercepat dan memiliki
durasi sekitar 15 menit.
Kedua, siaran
pandangan mata, siaran langsung live report di lokasi kejadian dan mealporkan
apa adanya kegiatan yang ada di lapangan sejauh mata memandang.
Ketiga,
wawancara udara, biasanya lewat call interaktif atau telepon. Biasanya memiliki
ciri untuk meminta keterangan lebih lanjut.
Keempat,
komentar, memuat pendapat opini seseorang atau narasumber baik di studio atau
di luar studio. Misalnya talk show, atau dialog.
Kelima, Berita terkini, berita yang terjadi
saat itu juga, memuat straight news.
Keenam, berita
berkala, adalah berita yang disiarkan secara singkat mengenai sebuah peristiwa.
Disiarkan jam 00.
Boleh saya
menambahkan, ada berita feature dan Investigatif news. Pertama, Feature, yakni
berita yang memuat sebuah laporan dengan di desain semanusiawi mungkin artinya
tujuan selain memberi infromasi juga dikemas sekreatif mungkin. Sedangkan
Investigatif news, yakni berita yang memuat sebuah laporan yang butuh
pendalaman lebih lanjut untuk menggali informasi tersebut. Cara-cara intelejen
atau mata-mata biasanya digunakan dalam berita investigatif.
Karakteristik Jurnalisme Televisi
Karakteristik
memiliki pengertian ciri khas atau indikator yang menunjukan kepada sesuatu.
Dikutip dari Haris Sumadiria, Bahasa Jurnalistik. Televisi memiliki
empat ciri pokok : (1) bersifat tidak langsung, (2) bersifat satu arah, (3)
bersifat terbuka, (4) mempunyai publik yang secara georgrafis tersebar,
(Elizabeth-Noelle Neuman, 1973:92 dalam Rakhmat, 1998:189). (5) bersifat
selintas (Wahyudi, 1986: 3-4). (dikutip Sumadiria, Haris 2010:128).
Kalau boleh saya
menambahkan bahwa televisi memiliki sifat radio. Dan karakteristiknya sedikit kesamaan. Jika Radio memiliki
karakteristik (1) Auditori, (2) Transmisi, (3) Mengandung gangguan, (4) Theatre
of Mind, (5) Identik dengan musik. (Romli 2010: 22-23). Maka karakteristik
Televisi, (1) Audio Visual, (2) menggunakan transmisi, (3) Mengandung gangguan,
(4) Identik dengan film, entertainment.
Ciri pertama, televisi bersifat tidak
langsung, artinya bahwa televisi memiliki dampak baik atau buruk kepada
khalayak. Pengaruh ini bisa muncul karena kebijakan yang dilakukan pihak
pemiliki modal. Sehingga terkadang, acara tidak sesuai dengan keinginan
khalayak. Melainkan keinginan pasar, dan inilah dampak tidak langsung televisi.
Ciri kedua,
bersifat satu arah, artinya televisi merupakan bagian dari komunikasi massa.
Karakteristik komunikasi massa salah satunya adalah bersifat satu arah.
Meskipun bersifat satu arah, khalayak
bisa mengajukan respon kepada pemilik televisi, atau kepada lembaga yang
memantau siaran televisi yakni Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) jika
tayangannya tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut di Indonesia.
Ciri ketiga,
bersifat terbuka, artinya televisi sangat universal. Mampu menjangkau berbagai
kalangan, baik anak-anak, remaja, sampai dewasa menjadi sasaran televisi.
Selain itu, daya pancar televisi mampu menembus pelosok-pelosok. Tetapi,
masalah terbuka ini bisa berdampak pada lahirnya tayangannya yang tidak sesuai
kualifikasi khalayak, dan hal ini bisa menjadi boomerang bagi televisi.
Ciri keempat,
Mempunyai Publik yang Secara Geografis tersebar, artinya televisi mampu
menjangkau semua tempat, baik lokal, regional, maupun Internasional. Sehingga
tidak heran meskipun kita berada di Jakarta kita masih bisa melihat pemilu USA
di Amerika.
Ciri kelima,
bersifat sekilas, artinya karena televisi berpacu second-by-second maka, televisi biasanya hanya mengulas hal-hal
yang penting tanpa basa-basi.
Ciri keenam,
Audio Visual, artinya televisi memiliki kekuatan pada suara dan gambar.
Ciri ketujuh,
Transmisi, artinya seperti radio, televisi menggunakan transmisi untuk
menangkap sinyal atau menerima sinyal dari gelombang magnetic. Itulah kenapa,
biasanya televisi yang tidak memakai antenna tidak tertangkap siarannya.
Ciri kedelapan,
Mengganggu gangguan, artinya televisi tidak akan menyala jika listrik padam.
Jika faktor alam bisa saja hujan petir yang membuat siaran terganggu atau
kesulitan mendapatkan sinyal karena gangguan alam.
Ciri kesembilan,
Identik Entertainment, artinya tidak bisa dihindari lagi jika entertainment
menjadi konsumsi no 1 di industry televisi Indonesia. Munculnya sinetron dan
film mampu menyisihkan acara berita itu sendiri yang hanya tayang 30 menit.
Berbanding dengan sinetron yang bisa tayang sepanjang 2 jam.
Bahasa Jurnalisme Televisi
Menurut pendapat saya, Bahasa Jurnalisme
Televisi merupakan Bahasa yang mudah dimengerti oleh khalayak (pemirsa), tidak
bertele-tele karena televisi kaitanya second-by-second,
bahasanya harus menggunakan fakta, jujur dan tanpa prasangka. Dan yang paling
penting sesuai dengan kode etik Televisi yakni (1) adanya prinsip jurnalistik,
(2) Akurasi, (3) Adil, (4) Tidak berpihak (netral), (5) Melindungi Privasi, (6)
Pencegatan, (7) Eksploitasi seks, (8) kata-kata kasar dan makian, (9) Suku dan
Ras, (10) Judi.
Sementara itu
menurut Mark W. Hall (dalam Rosihan Anwar 1991), berita televisi haruslah,
pertama, sederhana. Kedua, kalimat hendaklah pendek, ketiga, hindari pemakaian
kalimat terbalik.
Sedangkan Soren
H. Munhof mengemukakan rumusan penulisan berita televisi: (1) Accuracy atau
ketepatan, (2) Brevity- singkat (3) Clarity- jelas, (4) Simplicity – Sederhana.
(Dalam
Sumadiria, Haris 2010 : 131-135), Morissan memaparkan sedikitnya terdapat 15
prinsip penulisan naskah berita televisi agar sesuai dengan kaidah bahasa
jurnalistik. (Morissan, 2005: 90-111). Pertama, gaya bahasa ringan. Kedua,
gunakan prinsip ekonomi kata. Ketiga, gunakan ungkapan lebih pendek. Keempat,
gunakan kata sederhana. Kelima, gunakan kata sesuai dengan konteks. Keenam,
hindari ungkapan bombastis. Ketujuh, hindari istilah teknis tidak dikenal.
Kedelapan, hindari ungkapan klise dan eufeumisme. Kesembilan, gunakan kata
tutur. Kesepuluh, reporter harus objektif. Kesebelas, Jangan mengulangi
informasi. Keduabelas, istilah harus diuji kembali. Ketigabelas, harus kalimat
aktif dan terstrukutur. Keempatbelas, jangan terlalu banyak angka. Kelimabelas,
hati-hatilah mencantumkan jumlah koraban.
Dari berbagai
pengertian diatas, maka boleh saya simpulkan bahwa bahasa televisi menurut
Morrison lebih merangkul semua. Pertama, gaya bahasa ringan, artinya menuliskan
untuk mata dan telinga. Bukan untuk mata saja. Maka diharuskan gayanya ringan
dan mudah dibaca secara singkat dan mudah diingat. Contohnya: Ibu pergi ke
Pasar.
Kedua, gunakan
prinsip ekonomi kata, artinya harus diingat televisi berpacu second-by-second, jadi gunakan kata
seefektif dan efisien mungkin. Jauhkan dari kata mubazir. Contoh, hindari kata
mubazir seperti bahwa, oleh, untuk, agar, dan lainnya.
Ketiga, gunakan
ungkapan pendek, artinya ingat televisi berpacu dengan waktu dan ruangnya
terbatas. Sehingga berusahalan sebijaksana mungkin untuk memberikan informasi
dengan baik. Contoh: dewasa ini diganti menjadi kini.
Keempat, gunakan
kata sederhana, artinya televisi haruslah mampu memberikan pengertian kepada
orang yang memiliki kosa kata terbatas. Contoh: dua orang tewas tersambar KRL
di Muara Angke. Kalimat lebih sederhananya, dua orang tersambar KRL.
Kelima, gunakan
kata sesuai konteks, artinya ini perlu diperhatikan sebab terkadang kata dengan
gambar berbeda dan hal ini bisa menimbulkan ambigu bagi khalayak. Contoh :
gambar menunjukan kerusuhan di Poso,
sedangkan tulisan menuliskan unjuk rasa di Poso.
Keenam, hindari
ungkapan bombastis, artinya hindari ungkapan yang bias, hiperbol atau
bombastis. Contoh: kapal itu hancur berkeping-keping dihantam ombak.
Ketujuh, hindari
istilah teknis yang tidak dikenal, artinya jauhkan atau hapus pada kalimat yang
bisa membuat keliru atau jarang diucapkan umum oleh masyarakat. Contoh : BKD
(Badan Kepagawaian Daerah).
Kedelapan, hindari
ungkapan klise dan eufeumisme, artinya hindari kata atau ungkapan yang bisa
menyesatkan. Contoh : buah simalakama.
Kesembilan,
gunakan bahasa Tutur, artinya televisi memiliki kesamaan dengan radio yakni
menggunakan bahasa tutur. Sebab televisi itu lebih mengibaratkan berbicara
secara interpersonal bukan untuk khalayak banyak.
Kesepuluh,
reporter harus objektif, artinya jangan sampai melebih-lebihkan berita bersikaplah
objektif terhadap berita tersebut.
Kesebelas,
jangan mengulangi informasi, artinya hindari-hindari kesalahan kecil sebab bisa
menghambat pada kesalahan selanjutnya. Dan salah satu contohnya adalah jangan
mengulangi informasi.
Keduabelas, istilah
harus diuji kembali, artinya istilah bisa berkembang sepanjang waktu, jadi
koreksi kembali istilah-istilah yang sudah ada sekarang.
Ketigabelas,
harus kalimat aktif dan terstruktur artinya kalimat harus menekankan pada SPOK
atau siapa melakukan apa dan siapa mengatakan apa.
Keempatbelas,
jangan terlalu banyak angka, artinya terlalu rumitnya membacakan angka-angka
maka akan membuat khalayak merasa jenuh dan pusing. Meskipun angka dan
statistika memiliki relevensi dan arti bagi khalayak.
Kelimabelas,
hati-hati mencantumkan jumlah korban. Artinya kembali pada prinsip jurnalistik
harus akurat jangan sampai fiktif dan
masih menggantung.[]
Daftar Pustaka
Baksin,
Askurifai. 2009. Jurnalistik (Teori dan Praktik). Bandung : Simbiosa Rekatama
Media
Biagi, Shirley.
1988. Media/Impact : An Introduction to Mass Media. California:
Wadsworth Publishing Company
Kertapati, Ton.
1986. Dasar-Dasar Publistik. Jakarta: Bina Aksara
Muhtadi, Asep
Saeful. 1999. Jurnalistik (Pendekatan Teori Dan Praktik). Tangerang: Logos
Romli, Asep Syamsul
M. 2010. Broadcast Journalism. Bandung : Nuansa
Sumadiria,
Haris. 2010. Bahasa Jurnalistik. Cetakan ketiga. Bandung: Simbiosa Rekatama
Media

0 komentar:
Posting Komentar