RSS

Rabu, 20 Maret 2013


Ketika Mahasiswa memandang Jurnalisme Televisi

Jurnalisme berasal dari kata djurnal berarti catatan harian. Tetapi memakai akhiran –isme, menjadi memiliki arti suatu paham. Jadi bisa dikatakan jurnalisme adalah paham tentang sebuah pencatatan / laporan  harian. Sementara pengertian jurnalistik adalah kegiatan untuk menyiapkan,mengedit,dan menulis, untuk surat kabar, majalah atau berkala lainnya (Assegaff, 1983:9). Pengertian lebih luasnya bahwa Jurnalisme adalah paham tentang keilmuan kejurnalistikan. Sementara, jurnalistik sudah termasuk kedalam prosesnya. Sedangkan hasilnya, disebut produk jurnalistik, dan orang yang melakukan kegiatan jurnalistik disebut sebagai jurnalis atau wartawan atau reporter.
Sementara televisi terbagi menjadi dua suku kata yakni tele dan vision. Tele memiliki pengertian jauh, sementara vision memiliki pengertian, penglihatan,khayalan,impian, atau kata sifatnya berarti melihat dalam mimpi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Televisi adalah penyiaran pertunjukan dan sebagainya dengan radio dan dengan alat penerima, pertunjukan tadi diwujudkan sebagai gambar hidup. Sedangkan menurut Roger Maxwell dalam bukunya “The Living Screen” antara lain mengatakan bahwa Televisi adalah sebagai “a branch of broadcasting, and it defends like sound radio, on the the transmission of signal in the form of electro-magnetic waves that travel at the speed of light” (sebagai suatu cabang dari penyiaran radio, dan sebagaimana siaran radio, ia tergantung pada penyampaian tanda-tanda dalam bentuk gelombang elektromagnetis secepat sinar). (Dikutip dari Kertapati, Ton 1986: 59).
Dari dua pengertian diatas, saya mencoba menyimpulkan bahwa televisi itu hampir sama dengan radio. Mereka sama-sama menggunakan bentuk gelombang elektromagnetis sebagai media pancarnya, dan menggunakan transmisi sebagai alat penerima sinyal gelombang elektromagnetis itu. Hanya saja, radio memiliki kekurangan pada gambar dan kuat pada suara. Sementara televisi, memiliki kekuatan baik itu suara maupun gambar.
Jadi, bisa saya artikan bahwa jurnalisme televisi adalah paham tentang keilmuan kejurnalistikan (menyiapkan,mengumpulkan,mengedit,dan menulis), untuk disiarkan dan ditunjukan melalui alat penerima (transmisi), dan diwujudkan dengan sebuah gambar hidup dan suara sedangkan kata-kata adalah penguat visual dan audionya.
Jurnalisme TV, Radio, dan Cetak
Terlepas dari setuju dan tidaknya pengertian diatas, mari saya ajak untuk menguak sisi kelebihan si ‘kotak ajaib” ini. Dibandingkan media cetak maupun radio. Pertama, televisi memiliki kekuatan dari sisi gambar (visual) dan suara (voice). Kedua, televisi itu cepat dan langsung artinya siaran yang mereka sajikan berlangsung second-by-second. Ketiga, Tanpa Batas, seperti radio siaran televisi dapat menembus batasan-batasan yang ada. Keempat, identik dengan entertainment, siaran televisi sekarang (di Indonesia) identik dengan hiburan dan sedikit sekali mengenai informasi atau pendidikan. Kelima, Fleksibel, semakin cepatnya teknologi maka semakin canggih pula Televisi. Bahkan kini televisi bisa dilihat lewat handphone anda. Keenam, kedekatan, sebuah peristiwa yang berada di Timur Tengah bisa kita lihat dan seolah berada di depan mata dengan televisi. Ketujuh, Cepat berkembang, kini televisi sudah mengeluarkan televisi terbaru 3D dan bisa melakukan apapun lewat televisi anda.
Sementara apabila Televisi dibandingkan dengan radio, maka radio memiliki keunggulan pada Theater of mind, yakni nalar atau imajinasi seseorang lebih peka, dan juga radio identik dengan musik. Radio sama dengan televisi memiliki penggemarnya tersendiri. Radio merupakan bisa digunakan dimanapun maupun kapanpun hanya saja radio dan televisi berpacu dengan second-by second.
Begitu pula media, cetak mereka lebih unggul pada mampu menambah jam dengan cara menambahkan rubrik atau kolom sedangkan televisi maupun radio harus berpacu dengan waktu. Koran juga memiliki penggemarnya masing-masing langsung diserap oleh kognitif (akal). Hanya saja, koran lebih menekankan pada mata sebagai objeknya. Sedangkan radio pada telinga, sementara televisi pada mata dan telinga.
Jenis-jenis Berita Jurnalisme Televisi
Jenis berita banyak macamnya, jika di cetak kita mengenal hard news, spot news, dan investigative news. Maka di radio kita mengenal dengan Buletin, insert news, wawancara udara, dan talk show.
Di Jurnalisme Televisi ada yang disebut warta berita, siaran pandangan mata, wawancara udara, komentar, berita terkini, Berita Berkala. (Baksin, Akurifai 2009)
Pertama warta berita, biasanya laporan tentang suatu peristiwa yang tercepat dan memiliki durasi sekitar 15 menit.
Kedua, siaran pandangan mata, siaran langsung live report di lokasi kejadian dan mealporkan apa adanya kegiatan yang ada di lapangan sejauh mata memandang.
Ketiga, wawancara udara, biasanya lewat call interaktif atau telepon. Biasanya memiliki ciri untuk meminta keterangan lebih lanjut.
Keempat, komentar, memuat pendapat opini seseorang atau narasumber baik di studio atau di luar studio. Misalnya talk show, atau dialog.
 Kelima, Berita terkini, berita yang terjadi saat itu juga, memuat straight news.
Keenam, berita berkala, adalah berita yang disiarkan secara singkat mengenai sebuah peristiwa. Disiarkan jam 00.
Boleh saya menambahkan, ada berita feature dan Investigatif news. Pertama, Feature, yakni berita yang memuat sebuah laporan dengan di desain semanusiawi mungkin artinya tujuan selain memberi infromasi juga dikemas sekreatif mungkin. Sedangkan Investigatif news, yakni berita yang memuat sebuah laporan yang butuh pendalaman lebih lanjut untuk menggali informasi tersebut. Cara-cara intelejen atau mata-mata biasanya digunakan dalam berita investigatif.
Karakteristik Jurnalisme Televisi
Karakteristik memiliki pengertian ciri khas atau indikator yang menunjukan kepada sesuatu. Dikutip dari Haris Sumadiria, Bahasa Jurnalistik. Televisi memiliki empat ciri pokok : (1) bersifat tidak langsung, (2) bersifat satu arah, (3) bersifat terbuka, (4) mempunyai publik yang secara georgrafis tersebar, (Elizabeth-Noelle Neuman, 1973:92 dalam Rakhmat, 1998:189). (5) bersifat selintas (Wahyudi, 1986: 3-4). (dikutip Sumadiria, Haris 2010:128).
Kalau boleh saya menambahkan bahwa televisi memiliki sifat radio. Dan karakteristiknya  sedikit kesamaan. Jika Radio memiliki karakteristik (1) Auditori, (2) Transmisi, (3) Mengandung gangguan, (4) Theatre of Mind, (5) Identik dengan musik. (Romli 2010: 22-23). Maka karakteristik Televisi, (1) Audio Visual, (2) menggunakan transmisi, (3) Mengandung gangguan, (4) Identik dengan film, entertainment.
 Ciri pertama, televisi bersifat tidak langsung, artinya bahwa televisi memiliki dampak baik atau buruk kepada khalayak. Pengaruh ini bisa muncul karena kebijakan yang dilakukan pihak pemiliki modal. Sehingga terkadang, acara tidak sesuai dengan keinginan khalayak. Melainkan keinginan pasar, dan inilah dampak tidak langsung televisi.
Ciri kedua, bersifat satu arah, artinya televisi merupakan bagian dari komunikasi massa. Karakteristik komunikasi massa salah satunya adalah bersifat satu arah. Meskipun  bersifat satu arah, khalayak bisa mengajukan respon kepada pemilik televisi, atau kepada lembaga yang memantau siaran televisi yakni Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) jika tayangannya tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut di Indonesia.
Ciri ketiga, bersifat terbuka, artinya televisi sangat universal. Mampu menjangkau berbagai kalangan, baik anak-anak, remaja, sampai dewasa menjadi sasaran televisi. Selain itu, daya pancar televisi mampu menembus pelosok-pelosok. Tetapi, masalah terbuka ini bisa berdampak pada lahirnya tayangannya yang tidak sesuai kualifikasi khalayak, dan hal ini bisa menjadi boomerang bagi televisi.
Ciri keempat, Mempunyai Publik yang Secara Geografis tersebar, artinya televisi mampu menjangkau semua tempat, baik lokal, regional, maupun Internasional. Sehingga tidak heran meskipun kita berada di Jakarta kita masih bisa melihat pemilu USA di Amerika.
Ciri kelima, bersifat sekilas, artinya karena televisi berpacu second-by-second maka, televisi biasanya hanya mengulas hal-hal yang penting tanpa basa-basi.
Ciri keenam, Audio Visual, artinya televisi memiliki kekuatan pada suara dan gambar.
Ciri ketujuh, Transmisi, artinya seperti radio, televisi menggunakan transmisi untuk menangkap sinyal atau menerima sinyal dari gelombang magnetic. Itulah kenapa, biasanya televisi yang tidak memakai antenna tidak tertangkap siarannya.
Ciri kedelapan, Mengganggu gangguan, artinya televisi tidak akan menyala jika listrik padam. Jika faktor alam bisa saja hujan petir yang membuat siaran terganggu atau kesulitan mendapatkan sinyal karena gangguan alam.
Ciri kesembilan, Identik Entertainment, artinya tidak bisa dihindari lagi jika entertainment menjadi konsumsi no 1 di industry televisi Indonesia. Munculnya sinetron dan film mampu menyisihkan acara berita itu sendiri yang hanya tayang 30 menit. Berbanding dengan sinetron yang bisa tayang sepanjang 2 jam.
Bahasa Jurnalisme Televisi
 Menurut pendapat saya, Bahasa Jurnalisme Televisi merupakan Bahasa yang mudah dimengerti oleh khalayak (pemirsa), tidak bertele-tele karena televisi kaitanya second-by-second, bahasanya harus menggunakan fakta, jujur dan tanpa prasangka. Dan yang paling penting sesuai dengan kode etik Televisi yakni (1) adanya prinsip jurnalistik, (2) Akurasi, (3) Adil, (4) Tidak berpihak (netral), (5) Melindungi Privasi, (6) Pencegatan, (7) Eksploitasi seks, (8) kata-kata kasar dan makian, (9) Suku dan Ras, (10) Judi.
Sementara itu menurut Mark W. Hall (dalam Rosihan Anwar 1991), berita televisi haruslah, pertama, sederhana. Kedua, kalimat hendaklah pendek, ketiga, hindari pemakaian kalimat terbalik.
Sedangkan Soren H. Munhof mengemukakan rumusan penulisan berita televisi: (1) Accuracy atau ketepatan, (2) Brevity- singkat (3) Clarity- jelas, (4) Simplicity – Sederhana.
(Dalam Sumadiria, Haris 2010 : 131-135), Morissan memaparkan sedikitnya terdapat 15 prinsip penulisan naskah berita televisi agar sesuai dengan kaidah bahasa jurnalistik. (Morissan, 2005: 90-111). Pertama, gaya bahasa ringan. Kedua, gunakan prinsip ekonomi kata. Ketiga, gunakan ungkapan lebih pendek. Keempat, gunakan kata sederhana. Kelima, gunakan kata sesuai dengan konteks. Keenam, hindari ungkapan bombastis. Ketujuh, hindari istilah teknis tidak dikenal. Kedelapan, hindari ungkapan klise dan eufeumisme. Kesembilan, gunakan kata tutur. Kesepuluh, reporter harus objektif. Kesebelas, Jangan mengulangi informasi. Keduabelas, istilah harus diuji kembali. Ketigabelas, harus kalimat aktif dan terstrukutur. Keempatbelas, jangan terlalu banyak angka. Kelimabelas, hati-hatilah mencantumkan jumlah koraban.
Dari berbagai pengertian diatas, maka boleh saya simpulkan bahwa bahasa televisi menurut Morrison lebih merangkul semua. Pertama, gaya bahasa ringan, artinya menuliskan untuk mata dan telinga. Bukan untuk mata saja. Maka diharuskan gayanya ringan dan mudah dibaca secara singkat dan mudah diingat. Contohnya: Ibu pergi ke Pasar.
Kedua, gunakan prinsip ekonomi kata, artinya harus diingat televisi berpacu second-by-second, jadi gunakan kata seefektif dan efisien mungkin. Jauhkan dari kata mubazir. Contoh, hindari kata mubazir seperti bahwa, oleh, untuk, agar, dan lainnya.
Ketiga, gunakan ungkapan pendek, artinya ingat televisi berpacu dengan waktu dan ruangnya terbatas. Sehingga berusahalan sebijaksana mungkin untuk memberikan informasi dengan baik. Contoh: dewasa ini diganti menjadi kini.
Keempat, gunakan kata sederhana, artinya televisi haruslah mampu memberikan pengertian kepada orang yang memiliki kosa kata terbatas. Contoh: dua orang tewas tersambar KRL di Muara Angke. Kalimat lebih sederhananya, dua orang tersambar KRL.
Kelima, gunakan kata sesuai konteks, artinya ini perlu diperhatikan sebab terkadang kata dengan gambar berbeda dan hal ini bisa menimbulkan ambigu bagi khalayak. Contoh : gambar menunjukan kerusuhan di Poso,  sedangkan tulisan menuliskan unjuk rasa di Poso.
Keenam, hindari ungkapan bombastis, artinya hindari ungkapan yang bias, hiperbol atau bombastis. Contoh: kapal itu hancur berkeping-keping dihantam ombak.
Ketujuh, hindari istilah teknis yang tidak dikenal, artinya jauhkan atau hapus pada kalimat yang bisa membuat keliru atau jarang diucapkan umum oleh masyarakat. Contoh : BKD (Badan Kepagawaian Daerah).
Kedelapan, hindari ungkapan klise dan eufeumisme, artinya hindari kata atau ungkapan yang bisa menyesatkan. Contoh : buah simalakama.
Kesembilan, gunakan bahasa Tutur, artinya televisi memiliki kesamaan dengan radio yakni menggunakan bahasa tutur. Sebab televisi itu lebih mengibaratkan berbicara secara interpersonal bukan untuk khalayak banyak.
Kesepuluh, reporter harus objektif, artinya jangan sampai melebih-lebihkan berita bersikaplah objektif terhadap berita tersebut.
Kesebelas, jangan mengulangi informasi, artinya hindari-hindari kesalahan kecil sebab bisa menghambat pada kesalahan selanjutnya. Dan salah satu contohnya adalah jangan mengulangi informasi.
Keduabelas, istilah harus diuji kembali, artinya istilah bisa berkembang sepanjang waktu, jadi koreksi kembali istilah-istilah yang sudah ada sekarang.
Ketigabelas, harus kalimat aktif dan terstruktur artinya kalimat harus menekankan pada SPOK atau siapa melakukan apa dan siapa mengatakan apa.
Keempatbelas, jangan terlalu banyak angka, artinya terlalu rumitnya membacakan angka-angka maka akan membuat khalayak merasa jenuh dan pusing. Meskipun angka dan statistika memiliki relevensi dan arti bagi khalayak.
Kelimabelas, hati-hati mencantumkan jumlah korban. Artinya kembali pada prinsip jurnalistik harus akurat jangan sampai fiktif  dan masih menggantung.[]



















Daftar Pustaka
Baksin, Askurifai. 2009. Jurnalistik (Teori dan Praktik). Bandung : Simbiosa Rekatama Media
Biagi, Shirley. 1988. Media/Impact : An Introduction to Mass Media. California: Wadsworth Publishing Company
Kertapati, Ton. 1986. Dasar-Dasar Publistik. Jakarta: Bina Aksara
Muhtadi, Asep Saeful. 1999. Jurnalistik (Pendekatan Teori Dan Praktik). Tangerang: Logos
Romli, Asep Syamsul M. 2010. Broadcast Journalism. Bandung : Nuansa
Sumadiria, Haris. 2010. Bahasa Jurnalistik. Cetakan ketiga. Bandung: Simbiosa Rekatama Media

0 komentar:

Posting Komentar