RSS

Kamis, 21 Maret 2013

Meta Tag


Meta Tag adalah program yang membuat blog anda bisa dibaca di mesin pencari. Dan memudahkan pencarian di mesin pencari.
 Meta Tag adalah elemen atau 
tag dalam bahasa pemrograman HTML atau XHTML yang dipakai untuk mengaplikasikan metadata dalam suatu halaman web.
Meta Tag adalah elemen atau tag dalam bahasa pemrograman HTML atau XHTML yang dipakai untuk mengaplikasikan metadata dalam suatu halaman web. Sebuah meta tag akhir yang digunakan cukup sering adalah meta tag refresh. Tag ini akan mengarahkan browser web ke URL baru atau refresh halaman saat ini untuk menyediakan beberapa konten dinamis.

Referensi lainnya di:
http://d-copy.blogspot.com/2012/11/apa-itu-meta-tag-dan-funsinya.html

Rabu, 20 Maret 2013


Ketika Mahasiswa memandang Jurnalisme Televisi

Jurnalisme berasal dari kata djurnal berarti catatan harian. Tetapi memakai akhiran –isme, menjadi memiliki arti suatu paham. Jadi bisa dikatakan jurnalisme adalah paham tentang sebuah pencatatan / laporan  harian. Sementara pengertian jurnalistik adalah kegiatan untuk menyiapkan,mengedit,dan menulis, untuk surat kabar, majalah atau berkala lainnya (Assegaff, 1983:9). Pengertian lebih luasnya bahwa Jurnalisme adalah paham tentang keilmuan kejurnalistikan. Sementara, jurnalistik sudah termasuk kedalam prosesnya. Sedangkan hasilnya, disebut produk jurnalistik, dan orang yang melakukan kegiatan jurnalistik disebut sebagai jurnalis atau wartawan atau reporter.
Sementara televisi terbagi menjadi dua suku kata yakni tele dan vision. Tele memiliki pengertian jauh, sementara vision memiliki pengertian, penglihatan,khayalan,impian, atau kata sifatnya berarti melihat dalam mimpi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Televisi adalah penyiaran pertunjukan dan sebagainya dengan radio dan dengan alat penerima, pertunjukan tadi diwujudkan sebagai gambar hidup. Sedangkan menurut Roger Maxwell dalam bukunya “The Living Screen” antara lain mengatakan bahwa Televisi adalah sebagai “a branch of broadcasting, and it defends like sound radio, on the the transmission of signal in the form of electro-magnetic waves that travel at the speed of light” (sebagai suatu cabang dari penyiaran radio, dan sebagaimana siaran radio, ia tergantung pada penyampaian tanda-tanda dalam bentuk gelombang elektromagnetis secepat sinar). (Dikutip dari Kertapati, Ton 1986: 59).
Dari dua pengertian diatas, saya mencoba menyimpulkan bahwa televisi itu hampir sama dengan radio. Mereka sama-sama menggunakan bentuk gelombang elektromagnetis sebagai media pancarnya, dan menggunakan transmisi sebagai alat penerima sinyal gelombang elektromagnetis itu. Hanya saja, radio memiliki kekurangan pada gambar dan kuat pada suara. Sementara televisi, memiliki kekuatan baik itu suara maupun gambar.
Jadi, bisa saya artikan bahwa jurnalisme televisi adalah paham tentang keilmuan kejurnalistikan (menyiapkan,mengumpulkan,mengedit,dan menulis), untuk disiarkan dan ditunjukan melalui alat penerima (transmisi), dan diwujudkan dengan sebuah gambar hidup dan suara sedangkan kata-kata adalah penguat visual dan audionya.
Jurnalisme TV, Radio, dan Cetak
Terlepas dari setuju dan tidaknya pengertian diatas, mari saya ajak untuk menguak sisi kelebihan si ‘kotak ajaib” ini. Dibandingkan media cetak maupun radio. Pertama, televisi memiliki kekuatan dari sisi gambar (visual) dan suara (voice). Kedua, televisi itu cepat dan langsung artinya siaran yang mereka sajikan berlangsung second-by-second. Ketiga, Tanpa Batas, seperti radio siaran televisi dapat menembus batasan-batasan yang ada. Keempat, identik dengan entertainment, siaran televisi sekarang (di Indonesia) identik dengan hiburan dan sedikit sekali mengenai informasi atau pendidikan. Kelima, Fleksibel, semakin cepatnya teknologi maka semakin canggih pula Televisi. Bahkan kini televisi bisa dilihat lewat handphone anda. Keenam, kedekatan, sebuah peristiwa yang berada di Timur Tengah bisa kita lihat dan seolah berada di depan mata dengan televisi. Ketujuh, Cepat berkembang, kini televisi sudah mengeluarkan televisi terbaru 3D dan bisa melakukan apapun lewat televisi anda.
Sementara apabila Televisi dibandingkan dengan radio, maka radio memiliki keunggulan pada Theater of mind, yakni nalar atau imajinasi seseorang lebih peka, dan juga radio identik dengan musik. Radio sama dengan televisi memiliki penggemarnya tersendiri. Radio merupakan bisa digunakan dimanapun maupun kapanpun hanya saja radio dan televisi berpacu dengan second-by second.
Begitu pula media, cetak mereka lebih unggul pada mampu menambah jam dengan cara menambahkan rubrik atau kolom sedangkan televisi maupun radio harus berpacu dengan waktu. Koran juga memiliki penggemarnya masing-masing langsung diserap oleh kognitif (akal). Hanya saja, koran lebih menekankan pada mata sebagai objeknya. Sedangkan radio pada telinga, sementara televisi pada mata dan telinga.
Jenis-jenis Berita Jurnalisme Televisi
Jenis berita banyak macamnya, jika di cetak kita mengenal hard news, spot news, dan investigative news. Maka di radio kita mengenal dengan Buletin, insert news, wawancara udara, dan talk show.
Di Jurnalisme Televisi ada yang disebut warta berita, siaran pandangan mata, wawancara udara, komentar, berita terkini, Berita Berkala. (Baksin, Akurifai 2009)
Pertama warta berita, biasanya laporan tentang suatu peristiwa yang tercepat dan memiliki durasi sekitar 15 menit.
Kedua, siaran pandangan mata, siaran langsung live report di lokasi kejadian dan mealporkan apa adanya kegiatan yang ada di lapangan sejauh mata memandang.
Ketiga, wawancara udara, biasanya lewat call interaktif atau telepon. Biasanya memiliki ciri untuk meminta keterangan lebih lanjut.
Keempat, komentar, memuat pendapat opini seseorang atau narasumber baik di studio atau di luar studio. Misalnya talk show, atau dialog.
 Kelima, Berita terkini, berita yang terjadi saat itu juga, memuat straight news.
Keenam, berita berkala, adalah berita yang disiarkan secara singkat mengenai sebuah peristiwa. Disiarkan jam 00.
Boleh saya menambahkan, ada berita feature dan Investigatif news. Pertama, Feature, yakni berita yang memuat sebuah laporan dengan di desain semanusiawi mungkin artinya tujuan selain memberi infromasi juga dikemas sekreatif mungkin. Sedangkan Investigatif news, yakni berita yang memuat sebuah laporan yang butuh pendalaman lebih lanjut untuk menggali informasi tersebut. Cara-cara intelejen atau mata-mata biasanya digunakan dalam berita investigatif.
Karakteristik Jurnalisme Televisi
Karakteristik memiliki pengertian ciri khas atau indikator yang menunjukan kepada sesuatu. Dikutip dari Haris Sumadiria, Bahasa Jurnalistik. Televisi memiliki empat ciri pokok : (1) bersifat tidak langsung, (2) bersifat satu arah, (3) bersifat terbuka, (4) mempunyai publik yang secara georgrafis tersebar, (Elizabeth-Noelle Neuman, 1973:92 dalam Rakhmat, 1998:189). (5) bersifat selintas (Wahyudi, 1986: 3-4). (dikutip Sumadiria, Haris 2010:128).
Kalau boleh saya menambahkan bahwa televisi memiliki sifat radio. Dan karakteristiknya  sedikit kesamaan. Jika Radio memiliki karakteristik (1) Auditori, (2) Transmisi, (3) Mengandung gangguan, (4) Theatre of Mind, (5) Identik dengan musik. (Romli 2010: 22-23). Maka karakteristik Televisi, (1) Audio Visual, (2) menggunakan transmisi, (3) Mengandung gangguan, (4) Identik dengan film, entertainment.
 Ciri pertama, televisi bersifat tidak langsung, artinya bahwa televisi memiliki dampak baik atau buruk kepada khalayak. Pengaruh ini bisa muncul karena kebijakan yang dilakukan pihak pemiliki modal. Sehingga terkadang, acara tidak sesuai dengan keinginan khalayak. Melainkan keinginan pasar, dan inilah dampak tidak langsung televisi.
Ciri kedua, bersifat satu arah, artinya televisi merupakan bagian dari komunikasi massa. Karakteristik komunikasi massa salah satunya adalah bersifat satu arah. Meskipun  bersifat satu arah, khalayak bisa mengajukan respon kepada pemilik televisi, atau kepada lembaga yang memantau siaran televisi yakni Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) jika tayangannya tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut di Indonesia.
Ciri ketiga, bersifat terbuka, artinya televisi sangat universal. Mampu menjangkau berbagai kalangan, baik anak-anak, remaja, sampai dewasa menjadi sasaran televisi. Selain itu, daya pancar televisi mampu menembus pelosok-pelosok. Tetapi, masalah terbuka ini bisa berdampak pada lahirnya tayangannya yang tidak sesuai kualifikasi khalayak, dan hal ini bisa menjadi boomerang bagi televisi.
Ciri keempat, Mempunyai Publik yang Secara Geografis tersebar, artinya televisi mampu menjangkau semua tempat, baik lokal, regional, maupun Internasional. Sehingga tidak heran meskipun kita berada di Jakarta kita masih bisa melihat pemilu USA di Amerika.
Ciri kelima, bersifat sekilas, artinya karena televisi berpacu second-by-second maka, televisi biasanya hanya mengulas hal-hal yang penting tanpa basa-basi.
Ciri keenam, Audio Visual, artinya televisi memiliki kekuatan pada suara dan gambar.
Ciri ketujuh, Transmisi, artinya seperti radio, televisi menggunakan transmisi untuk menangkap sinyal atau menerima sinyal dari gelombang magnetic. Itulah kenapa, biasanya televisi yang tidak memakai antenna tidak tertangkap siarannya.
Ciri kedelapan, Mengganggu gangguan, artinya televisi tidak akan menyala jika listrik padam. Jika faktor alam bisa saja hujan petir yang membuat siaran terganggu atau kesulitan mendapatkan sinyal karena gangguan alam.
Ciri kesembilan, Identik Entertainment, artinya tidak bisa dihindari lagi jika entertainment menjadi konsumsi no 1 di industry televisi Indonesia. Munculnya sinetron dan film mampu menyisihkan acara berita itu sendiri yang hanya tayang 30 menit. Berbanding dengan sinetron yang bisa tayang sepanjang 2 jam.
Bahasa Jurnalisme Televisi
 Menurut pendapat saya, Bahasa Jurnalisme Televisi merupakan Bahasa yang mudah dimengerti oleh khalayak (pemirsa), tidak bertele-tele karena televisi kaitanya second-by-second, bahasanya harus menggunakan fakta, jujur dan tanpa prasangka. Dan yang paling penting sesuai dengan kode etik Televisi yakni (1) adanya prinsip jurnalistik, (2) Akurasi, (3) Adil, (4) Tidak berpihak (netral), (5) Melindungi Privasi, (6) Pencegatan, (7) Eksploitasi seks, (8) kata-kata kasar dan makian, (9) Suku dan Ras, (10) Judi.
Sementara itu menurut Mark W. Hall (dalam Rosihan Anwar 1991), berita televisi haruslah, pertama, sederhana. Kedua, kalimat hendaklah pendek, ketiga, hindari pemakaian kalimat terbalik.
Sedangkan Soren H. Munhof mengemukakan rumusan penulisan berita televisi: (1) Accuracy atau ketepatan, (2) Brevity- singkat (3) Clarity- jelas, (4) Simplicity – Sederhana.
(Dalam Sumadiria, Haris 2010 : 131-135), Morissan memaparkan sedikitnya terdapat 15 prinsip penulisan naskah berita televisi agar sesuai dengan kaidah bahasa jurnalistik. (Morissan, 2005: 90-111). Pertama, gaya bahasa ringan. Kedua, gunakan prinsip ekonomi kata. Ketiga, gunakan ungkapan lebih pendek. Keempat, gunakan kata sederhana. Kelima, gunakan kata sesuai dengan konteks. Keenam, hindari ungkapan bombastis. Ketujuh, hindari istilah teknis tidak dikenal. Kedelapan, hindari ungkapan klise dan eufeumisme. Kesembilan, gunakan kata tutur. Kesepuluh, reporter harus objektif. Kesebelas, Jangan mengulangi informasi. Keduabelas, istilah harus diuji kembali. Ketigabelas, harus kalimat aktif dan terstrukutur. Keempatbelas, jangan terlalu banyak angka. Kelimabelas, hati-hatilah mencantumkan jumlah koraban.
Dari berbagai pengertian diatas, maka boleh saya simpulkan bahwa bahasa televisi menurut Morrison lebih merangkul semua. Pertama, gaya bahasa ringan, artinya menuliskan untuk mata dan telinga. Bukan untuk mata saja. Maka diharuskan gayanya ringan dan mudah dibaca secara singkat dan mudah diingat. Contohnya: Ibu pergi ke Pasar.
Kedua, gunakan prinsip ekonomi kata, artinya harus diingat televisi berpacu second-by-second, jadi gunakan kata seefektif dan efisien mungkin. Jauhkan dari kata mubazir. Contoh, hindari kata mubazir seperti bahwa, oleh, untuk, agar, dan lainnya.
Ketiga, gunakan ungkapan pendek, artinya ingat televisi berpacu dengan waktu dan ruangnya terbatas. Sehingga berusahalan sebijaksana mungkin untuk memberikan informasi dengan baik. Contoh: dewasa ini diganti menjadi kini.
Keempat, gunakan kata sederhana, artinya televisi haruslah mampu memberikan pengertian kepada orang yang memiliki kosa kata terbatas. Contoh: dua orang tewas tersambar KRL di Muara Angke. Kalimat lebih sederhananya, dua orang tersambar KRL.
Kelima, gunakan kata sesuai konteks, artinya ini perlu diperhatikan sebab terkadang kata dengan gambar berbeda dan hal ini bisa menimbulkan ambigu bagi khalayak. Contoh : gambar menunjukan kerusuhan di Poso,  sedangkan tulisan menuliskan unjuk rasa di Poso.
Keenam, hindari ungkapan bombastis, artinya hindari ungkapan yang bias, hiperbol atau bombastis. Contoh: kapal itu hancur berkeping-keping dihantam ombak.
Ketujuh, hindari istilah teknis yang tidak dikenal, artinya jauhkan atau hapus pada kalimat yang bisa membuat keliru atau jarang diucapkan umum oleh masyarakat. Contoh : BKD (Badan Kepagawaian Daerah).
Kedelapan, hindari ungkapan klise dan eufeumisme, artinya hindari kata atau ungkapan yang bisa menyesatkan. Contoh : buah simalakama.
Kesembilan, gunakan bahasa Tutur, artinya televisi memiliki kesamaan dengan radio yakni menggunakan bahasa tutur. Sebab televisi itu lebih mengibaratkan berbicara secara interpersonal bukan untuk khalayak banyak.
Kesepuluh, reporter harus objektif, artinya jangan sampai melebih-lebihkan berita bersikaplah objektif terhadap berita tersebut.
Kesebelas, jangan mengulangi informasi, artinya hindari-hindari kesalahan kecil sebab bisa menghambat pada kesalahan selanjutnya. Dan salah satu contohnya adalah jangan mengulangi informasi.
Keduabelas, istilah harus diuji kembali, artinya istilah bisa berkembang sepanjang waktu, jadi koreksi kembali istilah-istilah yang sudah ada sekarang.
Ketigabelas, harus kalimat aktif dan terstruktur artinya kalimat harus menekankan pada SPOK atau siapa melakukan apa dan siapa mengatakan apa.
Keempatbelas, jangan terlalu banyak angka, artinya terlalu rumitnya membacakan angka-angka maka akan membuat khalayak merasa jenuh dan pusing. Meskipun angka dan statistika memiliki relevensi dan arti bagi khalayak.
Kelimabelas, hati-hati mencantumkan jumlah korban. Artinya kembali pada prinsip jurnalistik harus akurat jangan sampai fiktif  dan masih menggantung.[]



















Daftar Pustaka
Baksin, Askurifai. 2009. Jurnalistik (Teori dan Praktik). Bandung : Simbiosa Rekatama Media
Biagi, Shirley. 1988. Media/Impact : An Introduction to Mass Media. California: Wadsworth Publishing Company
Kertapati, Ton. 1986. Dasar-Dasar Publistik. Jakarta: Bina Aksara
Muhtadi, Asep Saeful. 1999. Jurnalistik (Pendekatan Teori Dan Praktik). Tangerang: Logos
Romli, Asep Syamsul M. 2010. Broadcast Journalism. Bandung : Nuansa
Sumadiria, Haris. 2010. Bahasa Jurnalistik. Cetakan ketiga. Bandung: Simbiosa Rekatama Media

Jumat, 15 Maret 2013

Apa itu Penelitian


 Apa itu Penelitian?
Penelitian berasal dari kata teliti. Memiliki pengertian (1) cermat, saksama. (2) hati-hati; ingat-ingat. (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Kata teliti diberikan imbuhan pe (n)+teliti+an kemudian menjadi penelitian. Dalam pengertiannnya penelitian adalah pemeriksaan yang teliti atau penyelidikan.(Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Dalam buku Metode Penelitian: Kuantitatif, Kulitatif dan Tindakan karya Dr.Uhar Suharsaputra,M.Pd, dijelaskan bahwa penelitian merupakan proses pengumpulan dan analisis informasi (data) logis untuk beberapa kegunaan tergantung pada tujuan dari dilaksanakannya penelitian. (Suharsaputra, Uhar, 2012:21).
Ditambahkan kembali dari  Suharsaputra, Uhar, 2012:7, penelitian merupakan suatu modus berfikir ilmiah dimana tahapan –tahapan logis diterapkan guna mendapat pemahaman dan pemecahan akan masalah pada tingkat empiris.
Lalu, penelitian pada dasarnya merupakan suatu metode ilmiah, baik menggunakan berfikir deduktif maupun induktif, dalam membantu memahami dan menjawab berbagai persoalan yang dihadapai manusia dalam kehidupan, baik itu yang berkaitan dengan alam maupun kehidupan social masyarakat. (Suharsaputra, Uhar, 2012:7).
Menurut Wallace (1983); memperluas ilmu pengetahuan dengan memasukan dua jenis penelitian: murni dan terapan. Dalam penerapan murni (pure research), para peneliti dituntut oleh tujuan untuk menghasilkan teori demi ilmu itu sendiri dan untuk mengembangkan pengetahuan dalam sebuah area. Pada penelitian terapan (applied research), peneliti berharap untuk mengatasi masalah tertentu dengan pengetahuan mereka atau pengetahuan yang dihasilkan oleh peneliti lainnya. (West, Richard dan Lynn H.Turner. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi, 2009:72).
Sehingga saya memiliki anggapan bahwa melihat dari penjelasan diatas, penelitian tidak akan terlepas dari proses berfikir dan dalam penelitian haruslah didasari untuk menghasilkan suatu yang bermanfaat sesuai dengan tujuan yang ingin dicapainya baik itu untuk menciptakan ilmu pengetahuan yang baru maupun mengembangkan yang sudah ada. dan objek kajiannya harus dianalisis dengan cermat.


Apa itu Metode dan Metode Ilmiah?
Metode merupakan langkah-langkah sistematis yang digunakan dalam ilmu-ilmu tertentu, yang tidak direfleksikan atau diterima begitu saja. Metode lebih bersifat sistematis atau terapan. (Yusuf Lubis, Akhyar dan Donny Gahrak Adian. Pengantar Filsafat Ilmu Pengetahuan, 2011:27).
Metode penelitian memiliki pengertian cara ilmiah untuk memperoleh, mengembangkan dan memverifikasi pengetahuan atau teori. (Suharsaputra, Uhar, 2012:19)
Dijelaskan oleh Suharsaputra,Uhar, 2012: 19, bahwa metode penelitian merupakan cara seseorang mengumpulkan dan menganalisis data. Metode penelitian dikembangkan untuk memperoleh pengetahuan dengan prosedur yang sah dan terpercaya sesuai kaidah ilmiah. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan pengukuran teknik, interview yang luas dan observasi, atau pengumpulan dokumen.
Jadi, dalam melakukan metode penelitian yang paling penting adalah harus dilakukan secara sistematis artinya berurutan sesuai dengan prosedur. Dimana dijelaskan bahwa yang pertama harus dilakukan adalah memperoleh, kemudian mengumpulkan lalu memverifikasi data.
Wilayah kajian penelitian Jurnalistik
Jurnalistik termasuk kedalam ranah Komunikasi dalam pengertian umum dan Komunikasi Massa secara pengertian khususnya. Komunikasi Massa dalam hal ini adalah pers, baik dalam arti sempit yakni Media cetak atau luas (Radio dan Televisi).

Referensi :
Suharsaputra, Uhar.2012. Metode Penelitian :Kuantitatif,Kualitatif,danTindakan.
Bandung: Refika Aditama.
West,Richard dan Lynn H.Turner.2009. Pengantar Teori Komunikasi:Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika.
Yusuf Lubis, Akhyar dan Donny Gahral Adian.2011. Pengantar Filsafat Ilmu Pengetahuan. Depok: Koekoesan.

Rabu, 27 Februari 2013

senyum yang abadi abang dan ponakan


Rabu, 13 Februari 2013

Jurnalistik Online (Ju-On): Gelombang Baru Arus Informasi Massa


Jurnalistik Online (Ju-On), merupakan jurnalistik baru ditengah masyarakat kini. Kehadirannya memang menyesuaikan dengan perkembangan teknologi dan informasi. Dalam komunikasi Massa, Jurnalistik Online bisa dikategorikan pada media baru (new media). Media baru (new media) merupakan media elektronik (biasanya merupakan teknologi yang berbasis computer), seperti internet, e-mail dan kabel digital.[1]
Semakin berkembangnya Jurnalistik Online (Ju-On), berdampak pada makin gemarnya warga untuk menjadi seorang pewarta (citizen Journalis). Mereka menulis memanfaatkan, misal: Blog atau media social lainnya yang dimana karya jurnalistik mereka bisa menambah informasi. Tapi masih adanya pro dan kontra terkait apakah Jurnalistik Online (Ju-On)masuk kepada pengertian Pers dalam arti luas (meliputi media elektronik: Radio dan Televisi) masih menjadi bahan perdebatan. Sebab, media yang digunakan oleh Jurnalistik Online (Ju-On)adalah ranah internet yang dimana lembaganya masih dipertanyakan (dalam arti) tidak semua user (pengguna) melembaga.
Terlepas dari pro dan kontra yang ada, Jurnalistik Online (Ju-On) tetaplah pilar penting memperkaya arus informasi. Tentu dengan informasi yang cepat, tepat, akurat, dan berimbang. Dan masyarakat utamanya diarahkan untuk melek media dan informasi , terutama diajak untuk menjadi seorang pewarta professional. (Nandar Sunandar, Jurnalistik 6 B, UIN Sunan Gunung Djati Bandung).



[1] West,Richard.,Lynn H. Turner, 2009, Pengantar Teori Komunikasi:Analisis dan Aplikasi. Salemba Humanika: Jakarta.

Perempuan Langka (Laki-laki Only)


--Hanya istri salehah, perhiasan Terindah--
Begitulah Raja Dangdut, Rhoma Irama menggambarkan sosok perempuan  lewat lagunya berjudul Salehah.  Lagu yang terinspirasi dari hadis nabi itu. Mengingatkan Ane pada sosok perempuan. Ya, perempuan, gan. Hareem.  Awal ceritanya gini, gan. Ketika perjalanan pulang dari kampus pukul 6 petang Ane nyempetin shalat di masjid (-lupa lagi namanya) di daerah Jatinangor, Sumedang.
 Lalu ketika Ane buka sepatu, keluarlah dari serambi masjid, sosok perempuan yang menurut Ane langka, gan. Perempuan itu, ngebuat Ane terbengong-bengong. Entah kenapa ya, gan ? Ane langsung kepikiran, “subhannallah perempuan langka,” ucap Ane dalam ati, soalnya kalo keras ntar ketauan si Hareemnya, gan. Hehe
Ane lantas berfikir, apa Ane bisa dapetin perempuan langka kaya gitu. Made in surga, gan. Jarang-jarang gan perempuan kaya gitu. Coba gan bayangin, agan pilih mana makanan yang tertutup ape yang terbuka ? Ayo bayangin, gan? Begitu juga perempuan langka,gan. Mereka yang menutupi auratnya hanya untuk muhrimnya, membuka hatinya hanya untuk Allah dan Agamanya. Wah, Ane semakin penasaran gan dengan perempuan langka ?
Saidina Ali r.a berkata “ Terdapat tiga nilai buruk pada seorang lelaki yang merupakan nilai murni bagi perempuan : pelit, mewah diri dan penakut. Jika dia (perempuan) pelit, dia akan memelihara hartanya dan harta milik suaminya. Jika dia (perempuan) bermewah diri, dia tidak akan cenderung untuk bercerita atau keluh kesah dengan orang lain akan hal-hal sulit dan pribadi. Jika dia (perempuan) penakut, dia akan tidak akan keluar rumah tanpa sebab dan akan menjauhi tempat-tempat yang bisa menimbulkan keraguan karena tidak mau menyinggung perasaan suaminya.”
Gan? Coba Agan pikir, perempuan langka itu dilindungi gan. Nggak percaya gan, mereka dilindungi oleh Allah terhadap azab api neraka. Sebab bahan bakar neraka itu banyaknya perempuan, gan. Mereka perempuan langka tidak bisa dibandingkan dengan bahan bakar apapun gan, makannya mereka begitu adem diliat, pokoknya subhannallah gan.
Coba bayangin bahan bakarnya solar atau premium. Sudah pasti cepet ngebul,gan. Panas bawaanya. Ya, masih mending pertamax. Tapi semua nggak bisa ngalahin perempuan langka yang dilindungi Allah bukan negara lagi, gan.
Ane merindukan sosok perempuan langka itu untuk mengisi hidup Ane. Tapi, kayaknya itu sulit,ya gan ? Kalo Ane gak berubah menjadi laki-laki langka juga. Hehe. Tapi bener gan, Ane salut ama perempuan yang mampu menjaga shalat dan hijabnya. Malahan gan, dikejar susahnya minta ampun. (pengalaman teman Ane itu mah gan, hehe).
Tapi, Ane mah berdoa supaya Ane di kasih satu aja perempuan kaya gitu. Hehe (memperbaiki keturunan gan, supaya shaleh dan salehah). Tapi, buat Ane mah sekarang pake prinsip Ahmad Fuadi, Man Jadda Wa Jadda, --siapa yang bersungguh- sungguh pasti berhasil.
Jadi Ane, bersungguh-sungguh buat ngejar apa yang Ane cita-citain. Termasuk ngedapetin perempuan langka itu. Biar Ane, bisa lindungi dan buat konservasinya gan. Soalnya ane, bener-bener rindu sosok itu. Kalo agan-agan pengen tahu, yu ikut ma Ane. Biar pikiran agan terbuka luas. Berani, gan!* 

Kamis, 07 Februari 2013